1#SaCaTa-(Bahasa Indonesia) Meningkatkan Keterampilan Berbicara Didepan Umum

Hi, readers! Kali ini dalam #NisaCampusTask akan membahas tentang peningkatan keterampilan berbicara di depan umum, dimana skill berbicara ini merupakan sarana komunikasi yang berperan penting dalam penyampaian informasi secara langsung terhadap audiens. Jika pembicara baik maka informasi yang disampaikan akan maksimal untuk dimengerti, begitupun sebaliknya, dan umumnya hal ini sulit dilakukan. Semoga catatan ini bisa bermanfaat untuk membantu yaaa..

CARA MENINGKATKAN KETERAMPILAN BERBICARA DIDEPAN UMUM


PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang


Kehidupan manusia tidak dapat lepas dari kegiatan berbahasa. Bahasa merupakan sarana  untuk berkomunikasi antarmanusia. Bahasa sebagai alat komunikasi ini, dalam rangka memenuhi sifat manusia sebagai makhluk sosial yang perlu berinteraksi dengan sesama manusia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dituntut untuk mempunyai kemampuan berbahasa yang baik. Seseorang yang mempunyai kemampuan berbahasa yang memadai akan lebih mudah menyerap dan menyampaikan informasi baik secara lisan maupun tulisan.

            Keterampilan berbicara menunjang keterampilan lainnya. Keterampilan ini bukanlah suatu jenis keterampilan yang dapat diwariskan secara turun temurun walaupun pada dasarnya secara alamiah setiap manusia dapat berbicara. Namun, keterampilan berbicara secara formal  memerlukan latihan dan pengarahan yang intensif. Seseorang yang mempunyai keterampilan berbicara yang baik, pembicaraannya akan lebih mudah dipahami oleh penyimaknya. Berbicara menunjang keterampilan membaca dan menulis. Menulis dan berbicara  mempunyai kesamaan yaitu sebagai kegiatan produksi bahasa dan bersifat menyampaikan informasi. Kemampuan seseorang dalam berbicara juga akan bermanfaat dalam kegiatan menyimak dan memahami bacaan.

Akan tetapi, masalah yang terjadi di lapangan adalah tidak semua orang mempunyai kemampuan berbicara yang baik. Oleh sebab itu, pembinaan keterampilan berbicara harus dilakukan sedini mungkin. Pentingnya keterampilan berbicara atau bercerita dalam komunikasi , apabila seseorang memiliki keterampilan berbicara yang baik, dia akan memperoleh keuntungan sosial maupun profesional. Keuntungan sosial berkaitan dengan kegiatan interaksi sosial antarindividu. Sedangkan, keuntungan profesional diperoleh sewaktu  menggunakan bahasa untuk membuat  pertanyaa-pertanyaan, menyampaikan fakta-fakta dan pengetahuan, menjelaskan dan mendeskripsikan, memudahkan seseorang berkomunikasi dan mengungkapkan ide atau gagasan kepada orang lain. Kemampuan berpikir akan terlatih ketika mengorganisasikan, mengonsepkan, mengklarifikasikan, dan menyederhanakan pikiran, perasaan, dan ide kepada orang lain secara lisan.

B.      Tujuan

Keterampilan berbicara memiliki beberapa tujuan , diantaranya :

1.    Untuk berkomunikasi,agar dapat menyampaikan pikiran, ide, ataupun gagasan.

2.    Untuk mengetahui cara meningkatkan keterampilan membaca.

3.    Untuk mengetahui klasifikasi dan faktor yang mempengaruhi keterampilan berbicara

C.    Dasar Teori

Keterampilan berbicara sangat penting didalam kehidupan kita masing-masing. Namun , tidak semua orang dapat berbicara didepan umum dengan baik. Berbicara adalah salah satu aspek keterampilan berbahasa. Aspek-aspek keterampilan bahasa lainnya adalah menyimak, membaca, dan menulis. Keempat aspek tersebut berkaitan erat, antara berbicara dengan menyimak, berbicara dengan menulis, dan berbicara dengan membaca.



Keterkaitan antara keterampilan berbicara dengan keterampilan lainnya, yaitu :

(a)           Hubungan Berbicara dengan Menyimak



Berbicara dan menyimak adalah dua kegiatan yang berbeda namun berkaitan erat dan tak terpisahkan. Kegiatan menyimak didahului oleh kegiatan berbicara. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi dan berpadu menjadi komunikasi lisan, seperti dalam bercakap-cakap, diskusi, bertelepon, tanya-jawab, interview, dan sebagainya. Kegiatan berbicara dan menyimak saling melengkapi, tidak ada gunanya orang berbicara bila tidak ada orang yang menyimak. Tidak mungkin orang menyimak bila tidak ada orang yang berbicara. Melalui kegiatan menyimak seseorang mengenal ucapan kata, struktur kata, dan struktur kalimat.



(b)          Hubungan Berbicara dengan Menulis



Kegiatan berbicara maupun kegiatan menulis bersifat produktif-ekspresif. Kedua kegiatan itu berfungsi sebagai penyampai informasi. Penyampaian informasi melalui kegiatan berbicara disalurkan melalui bahasa lisan, sedangkan penyampaian informasi dalam kegiatan menulis disalurkan melalui bahasa tulis. Informasi yang digunakan dalam berbicara dan menulis diperoleh melalui kegiatan menyimak ataupun membaca. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan dalam kegiatan berbicara menunjang keterampilan menulis. Keterampilan menggunakan kaidah kebahasaan menunjang keterampilan berbicara.



(c)           Hubungan Berbicara dengan Membaca



Berbicara dan membaca berbeda dalam sifat, sarana, dan fungsi. Berbicara bersifat produktif, ekspresif melalui sarana bahasa lisan dan berfungsi sebagai penyebar informasi. Membaca bersifat reseptif melalui sarana bahasa tulis dan berfungsi sebagai penerima informasi. Bahan pembicaraan sebagian besar didapat melalui kegiatan membaca. Semakin sering orang membaca semakin banyak informasi yang diperolehnya. Hal ini merupakan pendorong bagi yang bersangkutan untuk mengekspresikan kembali informasi yang diperolehnya antara lain melalui berbicara.



D.    Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian keterampilan berbicara ?

2.      Bagaimana teknik dan jenis-jenis dalam keterampilan berbicara ?

3.      Jelaskan faktor pendukung dan penghambat dalam beterampilan berbicara ?

4.      Apa saja yang termasuk gangguan berbicara ?

5.      Apa kemampuan yang harus dimiliki dalam berbicara ?

6.      Bagaimana cara meningkatkan kemampuan berbicara ketika di depan umum?




PEMBAHASAN



A.    Pengertian Berbicara



1.      Berbicara  adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan  (Tarigan, 2008:16). Pengertian tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata yang bertujuan untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan, baik ituperasaan, ide ataugagasan.

2.      Definisi berbicara juga dikemukakan oleh Brown dan Yule, bahwa berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi –bunyi bahasa untuk  mengekspresikan atau menyampaikan pikiran, gagasan atau perasaan secara lisan. Pengertian ini pada intinya mempunyai makna yang sama dengan pengertian yang disampaikan oleh Tarigan yaitu berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata.

3.      HaryadidanZamzani (2000:72), mengemukakan bahwa secara umum berbicara dapat diartikan sebagai suatu penyampaian maksud (ide, pikiran, isi hati) seseorang kepada orang lain dengan menggunakan bahasa lisan, sehingga maksud tersebut dapat dipahami orang lain. Pengertian ini mempunyai makna yang sama dengan kedua pendapat yang diuraikan diatas, hanya saja diperjelas dengan tujuan yang lebih jauh lagi yaitu agar apa yang disampaikan dapat dipahami oleh orang lain.

4.      St. Y. Slametdan Amir (1996: 64), mengemukakan pengertian berbicara sebagai keterampilan menyampaikan pesan melalui bahasa lisan sebagai aktivitas untuk menyampaikan gagasan yang disusun, serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penyimak. Pengertian ini menjelaskan bahwa berbicara tidak hanya sekedar mengucapkan kata-kata, tetapi menekankan pada penyampaian gagasan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penyimak atau penerima informasi atau gagasan.
             Berdasarkan pendapat-pendapat yang telah diuraikan diatas dapatdisimpulkan bahwa pengertian berbicara ialah kemampuan mengucapkan kata-kata dalam rangka menyampaikan atau menyatakan maksud, ide, gagasan, pikiran, serta perasaan yang disusun dan dikembangkan sesuai dengankebutuhan penyimak agar apa yang disampaikan dapat dipahami oleh penyimak.



B.     Teknik Dan Jenis-Jenis Dalam Berbicara 


Klasifikasi berbicara dapat dilakukan dengan berdasarkan tujuannya, situasinya, cara penyampaiannya dan jumlah pendengarnya.
Klasifikisasi berbicara berdasarkan tujuannya menurut Tarigan (2008:31)       adalah sebagai berikut :

a)      Berbicara untuk melaporkan
Kegiatan berbicara untuk memberikan informasi yang dilaksanakan kala seseorang berkeinginan untuk :
1.      memberi atau menanamkan pengetahuan
2.      menetapkan atau menentukan hubungan-hubungan antara benda-
benda,
3.      menerangkan atau atau menjelaskan suatu proses, dan
4.      menginterpretasikan atau menafsirkan sesuatu persetujuan ataupun menguraikan  sesuatu tulisan.

      b)    Berbicara Berdasarkan Situasinya.
1.      Berbicara Formal
Dalam situasi formal, pembicara dituntut untuk berbicara secara formal. Misalnya ceramah atau wawancara.
2.      Berbicara Informal
Dalam situasi informal, pembicara harus berbicara secara tidak formal, pembicara hendaknya bersikap rileks, santun dan tenang, misalnya bertelpon.

c)    Berbicara Berdasarkan Cara Penyampaiaanya.
1)      Berbicara Mendadak
Berbicara mendadak terjadi jika seseorang tanpa direncanakan sebelumnya harus berbicara di muka umum.
  Berbicara Berdasarkan Catatan

 Pembicara menggunakan catatan kecil pada kartu yang telah disiapkan sebelumnya     

 dan telah menguasai materi pembicaraannya sebelum tampil di muka umum.



        e)   Berbicara Berdasarkan Hafalan

 Pembicara menyiapkan dengan cermat dan menulis dengan lengkap nahan   

 pembicaraannya.



        f)   Berbicara Berdasarkan Naskah

      Penyampaian dari naskah biasanya dilaksanakan pada saat-saat yang sangat penting dan sering kali digunakan untuk siaran-siaran radio atau televise (Tarigan, 2008:25).



   g)  Berbicara Berdasarkan Jumlah Pendengarnya

·         Berbicara Antar Pribadi

·          Berbicara dalam Kelompok Kecil

·         Berbicara dalam Kelompok Besar

Jenis pembicara seperti ini terjadi bila pembicara menghadapi pendengar yang berjumlah besar. Jenis situasi dalam berbicara :



a. Situasi berbicara secara interaktif

Misalnya adalah percakapan secara tatap muka dan berbicara lewat telepon yang memungkinkan adanya aktivitas pergantian antara berbicara dan mendengarkan. Kita dapat meminta klarifikasi, pengulangan / kita dapat meminta lawan bicara memperlambat tempo bicara.


b. Situasi berbicara secara Semi-Interaktif

Misalnya adalah situasi berpidato dihadapan umum secara langsung. Audiens memang tidak dapat melakukan iterupsi terhadap pembicara,namun pembicara dapat melihat reaksi pendengar dari ekspresi wajah dan bahasa tubuh mereka.



c. Situasi berbicara dapat dikatakan betul-betul bersifat Non-Interaktif
                       Misalnya adalah berpidato lewat radio / TV



C.    Faktor Kebahasaan Sebagai Penunjang Keefektifan Berbicara\


Faktor pendukung berbicara, antara lain :

1.       Ketepatan ucapan

Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat, dapat mengalihkan perhatian pendengar.

2.      Penempatan tekanan, nada, sendi, dan durasi yang sesuai.

Kesesuaian tekanan, nada, dan  durasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan tekanan, nada, dan durasi yang sesuai, akan menyebabkan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaian datar saja, dapat dipastikan akan menimbulkan kejemuan dan keefektifan berbicara tentu berkurang.

3.      Pilihan kata (Diksi)

Pilihan kata hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang dan akan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan sudah kata-kata yang sudah dikenal oleh pendengar.. Kata-kata yang belum dikenal memang membangkitkan rasa ingin tahu, namun akan menghambat kelancaran komunikasi. Diksi adalah kemampuan pembicara atau penulis dalam memilih kata-kata untuk menyusunnya menjadi rangkaian kalimat yang sesuai dengan keselarasan dari segi konteks. 

Dapat digunakan beberapa cara untuk memilih kata, yaitu melihatnya dari segi bentuk kata; baku tidaknya kata; makna kata; keumuman dan kekhususan kata; menggunakan gaya bahasa/majas; ketepatan sasaran pembicaraanHal ini menyangkut pemakaian kalimat. Pembicara yang menggunakan kalimat efektif akan memudahkan pendengar menangkap pembicaraannya.



4.      Sikap pembicara

Seorang pembicara dituntut memiliki sikap positif ketika berbicara, tenang dan bersemangat dalam berbicara.



5.      Pandangan mata 

     Seorang pembicara dituntut mampu mengarahkan pandangan matanya kepada semua yang hadir agar para pendengar merasa terlihat dalam pembicaraan. Pembicara harus menghindari pandangan mata yang tidak kondusif, misalnya melihat ke atas, ke samping, atau menunduk.



6.      Keterbukaan

     Seorang pembicara dituntut memiliki sikap terbuka, jujur dalam mengemukakan pendapat, pikiran, perasaan, atau gagasannya dan bersedia menerima kritikan dan mengubah pendapatnya kalau ternyata memang keliru atau tidak dilandasi argumentasi yang kuat.



7.      Gerak-gerik dan mimik yang tepat

     Seorang pembicara dituntut mampu mengoptimalkan penggunaan gerak-gerik anggota tubuh dan ekspresi wajah untuk mendukung penyampaian gagasan. Untuk itu perlu dihindari penggunaan gerak-gerik yang tidak ajeg, berlebihan, dan bertentangan dengan makna kata yang digunakan.



8.      Kenyaringan suara

     Seorang pembicara dituntut mampu memproduksi suara yang nyaring sesuai dengan tempat, situasi, jumlah pendengar, dan kondisi akustik. Kenyaringan yang terlalu tinggi akan menimbulkan rasa gerah dan berisik sedangkan kenyaringan yang terlalu rendah akan menimbulkan kesan melempem, lesu, dan tanpa gairah.



9.      Kelancaran

    Seorang pembicara dituntut mampu menyampaikan gagasannya dengan lancar. Kelancaran berbicara akan mempermudah pendengar menangkap keutuhan isi paparan yang disampaikan. Kelancaran tidak berarti pembicara harus berbicara dengan cepat sehingga membuat pendengar sulit memahami apa yang diuraikannya.



10.  Penguasaan topik

    Seorang pembicara dituntut menguasai topik yang dibicarakan. Kunci untuk menguasai topik adalah persiapan yang matang, penguasaan materi yang baik, dan meningkatkan keberanian dan rasa percaya diri. dan Penalaran, seorang pembicara dituntut mampu menunjukkan penalaran yang baik dalam menata gagasannya sehingga pendengar akan mudah memahami dan menyimpulkan apa yang disampaikannya.



     Faktor penghambat keefektifan berbicara ada dua, yaitu :



1.      Hambatan internal adalah hambatan yang berasal dari dalam diri pembicara, terdiri atas tiga bagian, yaitu sebagai berikut.

a.       Hambatan yang bersifat fisik, antara lain meliputi alat ucap yang sudah tidak  sempurna lagi, kondisi fisik yang kurang segar, dan kesalahan dalam mengambil posisi tubuh.

b.      Hambatan yang bersifat mental atau psikis,seperti rasa malu, rasa takut, dan rasa ragu atau grogi

c.       Hambatan lain-lain meliputi: kurangnya penguasaan kaidah yaitu tata bunyi, tata bentuk, tata kalimat, dan tata makna; kurangnya pengalaman dalam hal berbicara; kurangnya perhatian pada tugas yang diemban di bidang berbicara; dan adanya kebiasaan yang kurang baik (Taryono, 1999:68-72).

2.      Hambatan eksternal adalah hambatan yang berasal dari luar pembicara. Hambatan eksternal menurut Taryono meliputi:

a.       Hambatan yang berupa suara, dapat berasal dari dalam ruang atau dari luar ruang;

b.      Hambatan yang berupa gerak, sering terjadi dalam berbicara informal, misalnya di atas bus kota, kereta, atau pesawat. Sedangkan pada kondisi formal jarang dijumpai;

c.       Hambatan yang berupa cahaya, dapat terjadi jika pembicaraan dilakukan di malam hari atau ruang yang gelap tanpa pencahayaan.

d.      Hambatan yang berupa jarak, hal ini sering terjadi jika pendengar atau pembicara tidak memperdulikan pentingnya pengaturan jarak bicara antara pembicara dengan pendengar.



D.    Gangguan Berbicara



Penyebab ketakutan berbicara di depan umum:

a.       Munculnya rasa takut yang berlebihan dari dalam diri. Maksud dari rasa takut disini misalnya : takut ditertawakan, takut membuat kesalahan, takut kita tidak bisa menyampaikan apa yang kita sampaikan.

b.      Kurangnya rasa percaya diri, minder ,maupun rasa rendah diri. Kebanyakan orang yang berbicara didepan umum itu kurang rasa percaaya diri, sehingga penampilannya di depan umum tidak maksimal. Gangguan ini biasanYa diakibatkan karena dia tidak percaya pada dirinya sendiri bahwa dia bisa berbicara di depan umum.

c.       Kurangnya persiapan, baik materi maupun penampilan. Kurang persiapan dalam berbicara didepan umum akan berdampak serius, karena nantinya acara dalam diskusi akan tidak maksimal karena penyampaian yang kurang.

d.      Trauma akibat pengalaman buruk di masa lalu. Maksud dari trauma ini adalah kejadian buruk yang Pernah dialami pada masa lampau. Misalnya kita trauma akan tatapan muka. Itu akan sangat mengganggu karena peserta diskusi otomatis akan memperhatikan kita dengan cara melihat ke arah pembicara.

E.     Tes Kemampuan Berbicara yang Dimiliki



Ahmad Rofi’uddin dan Darmiyati Zuhdi (2002:169-171) mengemukakan bahwa secara umum, bentuk tes yang dapat digunakan dalam mengukur kemampuan berbicara adalah tes subjektif yang berisi perintah untuk melakukan kegiatan berbicara.

Beberapa tes yang dapat digunakan antara lain:

1.      Tes kemampuan berbicara  berdasarkan gambar. Tes ini dilakukan dengan cara memberikan pertanyaan sehubungan dengan rangkaian gambar atau menceritakan rangkaian gambar.

2.      Teswawancara, yang digunakan untuk mengukur kemampuan bahasa yang sudah cukup memadai.

3.      Bercerita, yang dilakukan dengan cara mengungkapkan sesuatu (pengalamannya atau topik tertentu).

4.      Diskusi, dengan  cara meminta mendiskusikan topik tertentu.

5.      Ujaran terstruktur, yang meliputi  mengatakan kembali, membaca kutipan, mengubah kalimat dan membuat kalimat.

Selanjutnya, PujiSantoso, dkk (2006: 7.19-7.24) mengemukakan bahwa ada tiga jenis tes yang dapat digunakan untuk menilai atau mengukur kemampuan berbicara, yaitu tes respons terbatas, tes terpandu, dan tes wawancara.


a. Tes Respons Terbatas

Tes ini digunakan untuk mengukur kemampuan berbicara secara terbatas atau secara singkat. Tes jenis ini mencakup beberapa macam tes, yaitu:

1.      Tes respons terarah. Tes ini dilakukan dengan cara meminta menirukan isyarat (cue) yang disampaikan. 

2.      Tes isyarat atau penanda gambar. Tes ini menggunakan gambar sebagai sarana untuk mengukur kemampuan berbicara.

3.      Tes berbicara nyaring. Tes ini dilakukan dengan cara meminta seseorang untuk membaca dengan bersuara kalimat atau paragraf yang disediakan oleh guru.



b.      Tes Terpadu

Tes ini dilakukan dengan cara memberikan panduan untuk mendorong menampilkan kemampuan berbicaranya. Tes ini meliputi tes parafrase, tes penjelasan, dan tes bermain peran terpandu.



c.       Tes Wawancara

Tes wawancara dilakukan dengan cara mewawancarai dan meminta untuk bersikap wajar, tidakdibuat-buat, dan tidak bersikap kasar.




PENUTUP


A.    SIMPULAN


Berbicara adalah suatu keterampilan berbahasa yang berkembang pada kehidupan anak, yang hanya didahului oleh keterampilan menyimak, dan pada masa tersebutlah kemampuan berbicara atau berujar dipelajari. (Tarigan, 2008:3)

Klasifikasi berbicara berdasarkan tujuannya menurut Tarigan (2008:31) adalah sebagai berikut :

1. Berbicara untuk melaporkan

2. Berbicara Berdasarkan Situasinya

3. Berbicara Berdasarkan Cara Penyampaiaanya.

4. Berbicara Berdasarkan Catatan

5. Berbicara Berdasarkan Hapalan

6. Berbicara Berdasarkan Naskah

7. Berbicara Berdasarkan Jumlah Pendengarnya

Pembelajaran berbicara bertujuan agar seseorang mampu berbicara dengan menggunakan bahasa berdasarkan kosa kata bahasa Indonesia,agar dapat menyampaikan pikiran, ide, ataupun gagasan, serta sesuai dengan konteks dimana pembicara tersebut sedang berbicara. Untuk menguasai hal tersebut diperlukan model-model pembelajaran dalam keterampilan berbicara, seperti diskusi , berpidato, ceramah, ataupun forum bicara, dll. Hal yang dapat mengganggu keterampilan berbicara antara lain ,rasa malu, kurang percaya diri, kurang persiapan , ataupun faktor yang lainnya.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

(KimiaAnalitik) Spektrofotometer Serapan Atom (SSA)-2#SaCaTa

Keikhlasan dan Prasangka-1#DiarySa

Keyakinan-2#DiarySa